Beranda Pendidikan SMP Negeri 2 Minasate’ne, Budayakan Bahasa Lontara

SMP Negeri 2 Minasate’ne, Budayakan Bahasa Lontara

42
0


TEROPONGBULUSARAUNG.COM, PANGKEP – Meski setiap saat siswa-siswi SMP Negeri 2 Minasate’ne yang berada di perbatasan Pangkep – Maros berdiskusi menggunakan bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Namun, bahasa lontara (Bugis – Makassar) tetap menjadi bahasa pergaulan siswa-siswi SMP Negeri 2 Minasate’ne disamping menggunakan bahasa Indonesia.
***
Itu kami lakukan agar anak didik tidak melupakan bahasa ibu (Bugis – Makassar), ungkap Kepala UPT SMP Negeri 2 Minasate’ne, Kasumawati, S.Pd saat bincang-bincang dengan wartawan anda di halaman sekolah, Sabtu (6/4/2019).
“Penggunaan bahasa lontara (Bugis – Makassar) kami budaya di sekolah, sembari melatih siswa-siswi untuk belajar bahasa Inggris serta bahasa Arab dengan tetap memperhatikan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar,” tandas Kasumati.

Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar” dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya, disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan “bahasa Indonesia yang baik dan benar” mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran. Bahasa yang diucapkan bahasa yang baku.
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.
Misalkan dalam pertanyaan sehari-hari dengan menggunakan bahasa yang baku Contoh :
Apakah kamu ingin menyapu rumah bagian belakang ?
Apa yang kamu lakukan tadi?
Misalkan ketika dalam dialog antara seorang Guru dengan seorang siswa
Pak guru : Wahyu apakah kamu sudah mengerjakan PR?
Rino : sudah saya kerjakan bu.
Pak guru : baiklah kalau begitu, segera dikumpulkan.
Rino : Terima kasih bu.
Kata yang digunakan sesuai lingkungan sosial
Contoh lain dari pada Undang-undang dasar antara lain :
Undang-undang dasar 1945 pembukaan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perkeadilan.
Dari beberapa kalimat dalam undang-undang tersebut menunjukkan bahasa yang sangat baku, dan merupakan pemakaian bahasa secara baik dan benar.

Contoh lain dalam tawar-menawar di pasar, misalnya, pemakaian ragam baku akan menimbulkan kegelian, keheranan, atau kecurigaan. Akan sangat ganjil bila dalam tawar -menawar dengan tukang sayur atau tukang becak kita memakai bahasa baku seperti ini.
(1) Berapakah Ibu mau menjual tauge ini?
(2) Apakah Bang Becak bersedia mengantar saya ke Pasar Kalibone dan berapa ongkosnya?
Contoh di atas adalah contoh bahasa Indonesia yang baku dan benar, tetapi tidak baik dan tidak efektif karena tidak cocok dengan situasi pemakaian kalimat-kalimat itu. Untuk situasi seperti di atas, kalimat (3) dan (4) berikut akan lebih tepat.
(3) Berapa nih, Bu, tauge nya?
(4) Ke Pasar Kalibone, Bang. Berapa?

Misalkan perbedaan dari bahasa indonesia yang benar dengan bahasa gaul
Bahasa Indonesia Bahasa Gaul (informal)
Aku, Saya Gue
Kamu Elo
Di masa depan kapan-kapan
Apakah benar? Emangnya bener?
Tidak Gak
Tidak Peduli Emang gue pikirin!
Dari contoh diatas perbedaan antara bahasa yang baku dan non baku dapat terlihat dari pengucapan dan dari tata cara penulisannya. Bahasa indonesia baik dan benar merupakan bahasa yang mudah dipahami, bentuk bahasa baku yang sah agar secara luas masyarakat indonesia berkomunikasi menggunakan bahasa nasional. Contoh pada. (sn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here