Beranda Pendidikan 40 Murid SD Negeri 19 Tamarupa Ikuti Pesantren Kilat

40 Murid SD Negeri 19 Tamarupa Ikuti Pesantren Kilat

41
0


TEROPONGBULUSARAUNG.COM, PANGKEP – Setidaknya 40 murid kelas 3 hingga kelas 5 SD Negeri 19 Tamarupa Kecamatan Mandalle Kabupaten Pangkep mengikuti pesantren kilat selama sepekan.
***

Pesantren kilat adalah pesantren yang diadakan dalam waktu singkat. Pesantren sendiri, menurut Juhaenah, S.Pd , “Pada prinsipnya memisahkan anak dari keramaian. Dengan maksud ingin memberi kepada anak suasana yang, dalam Islam disebut khusyuk. Maksudnya agar anak menjadi fokus, serius, konsentrasi menerima pelajaran, tanpa hingar bingar televisi dan sebagainya.

“Dengan ikut pesantren kilat, murid-murid tidak perlu pergi ke pesantren yang letaknya kebanyakan di luar kota. Cukup di ruang kelas,” tandas Kepala SD Negeri 19 Tamarupa Kecamatan Mandalle Kabupaten Pangkep, Juhaenah saat bincang-bincang dengan wartawan anda di sela-sela penyelenggaraan pesantren kilat di SD Negeri 19 Tamarupa, Kamis (9/5/2019).

Selama mengikuti pesantren, murid-murid kami diberikan pelajaran dan pemahaman mengenai keislaman secara lebih mendalam. Bedanya, programnya hanya dilakukan selama bulan Ramadhan. BELAJAR MELAYANI, kata Nurhayati, S.PdI yang sehari-hari dikenal sebagai guru mata pelajaran Agama SD Negeri 19 Tamarupa.

Ia menyebutkan pada penyelenggaraan pesantren kilat, murid-murid tidak hanya belajar mengaji, membaca Al-qur’an, tadarrus Al Qur’an, pelatihan shalat dhuha, menceritakan kisah atau sejarah nabi dan rasul, tetapi mereka pun diberi bimbingan akhlaq, diskusi bimbingan akhlaq, menghafal surah-surah pendek Al Qur’an, permainan, dan pemahaman tentang islam, seperti arti puasa dan sebagainya.

“Kami memakai program yang disebut sistem metafora pohon untuk Jerapah Kecil.” Maksudnya, anak seharusnya memiliki akar yang kuat. Dengan kata lain, akar pohon atau aqidahnya baik dan kuat. Kami memberi pemahaman bahwa Tuhan itu satu, tidak ada yang lain dan tidak boleh mengandalkan yang lain”, ungkap Juhaenah.

Setelah akar, diteruskan ke batang pohon. “Batang pohon ini seumpama tubuh anak-anak. Jika batang pohonnya kecil, lunglai dan tidak kokoh, sama seperti tubuh anak yang sakit-sakitan. Oleh karena itu, anak-anak diberitahu tentang kesehatan tubuhnya. Mereka diajarkan untuk tak terlalu banyak makan makanan yang tak sehat, sebaiknya yang bebas bahan pengawet, atau pewarna. Kita ajak mereka untuk mau makan sayur dan buah, dengan memberi alasan yang logis.” (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here